Jumat, 27 Agustus 2010

Berbagai Kerajinan Eceng Gondok



…….Eceng Gondok …..
Banyak orang yang mengatakan bahwa eceng gondok merupakan tumbuhan pengganggu (gulma) diperairan karena pertumbuhannya yang sangat cepat. Tetapi dibalik itu, eceng gondok ternyata juga mempunyai beberapa manfaat diantaranya merupakan sumber lignoselulosa yang dapat dikonversi menjadi produk yang lebih berguna, seperti pakan ternak. Eceng gondok hidup mengapung di air dan kadang-kadang berakar dalam tanah. Tingginya sekitar 0,4 – 0,8 meter. Tidak mempunyai batang. Daunnya tunggal dan berbentuk oval. Ujung dan pangkalnya meruncing, pangkal tangkai daun menggelembung. Permukaan daunnya licin dan berwarna hijau. Bunganya termasuk bunga majemuk, berbentuk bulir, kelopaknya berbentuk tabung. Bijinya berbentuk bulat dan berwarna hitam. Buahnya kotak beruang tiga dan berwarna hijau. Akarnya merupakan akar serabut.
Sama dengan tumbuhan lainnya, eceng gondok juga mempunyai nama latin yaitu : Eichhornia crassipes.
Klasifikasi Eceng Gondok
Klasifikasinya adalah sebagai berikut :
Divisi               : Spermatophyta
Sub divisi        : Angiospermae
Kelas               : Monocotyledoneae
Suku               : Pontederiaceae
Marga              : Eichhornia
Jenis                : Eichhornia crassipes Solms
Manfaat Eceng Gondok
Dalam sebuah Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) yang dilaksanakan Universitas Jember, seorang sisiwa yang bernama Ni Putu Yeni Kendarinny, siswa SMAN 3 Denpasar berhasil meraih juara I karena paparannya soal rahasia eceng gondok, ternyata mampu mengalahkan puluhan finalis lainnya. Ia mengangkat eceng gondok karena tanaman air ini tak dilirik masyarakat, padahal dia memiliki manfaat bagi ilmu kedokteran, peluang ekspor dan ajang bisnis.
Semua komponen tanaman eceng gondok ini bisa dimanfaatkan. Pertama, katanya, hasil labnya menunjukkan eceng gondok mampu mengikat unsur logam dalam air. Makanya tanaman ini hanya cocok hidup di air yang kotor dibandingkan air bersih. Kedua, daunnya bisa dipakai bahan pakan ternak. Ketiga, seratnya bisa dipakai bahan kerajinan tangan dan sudah banyak diekspor ke luar negeri. Keempat, batangnya bisa dipakai penyangga rangkaian bunga. Peluang inilah, menurut Yeni, belum maksimal dimanfaatkan oleh masyarakat, sehingga belum ada yang sampai membudidayakan eceng gondok di Bali.
Selain dikenal dengan nama eceng gondok, ternyata dibeberapa daerah di Indonesia, eceng gondok mempunyai nama lain seperti di daerah Palembang dikenal dengan nama Kelipuk, di Lampung dikenal dengan nama Ringgak, di Dayak dikenal dengan nama Ilung-ilung, di Manado dikenal dengan nama Tumpe.
Kerajinan Eceng Gondok
Eceng gondok atau enceng gondok (Eichhornia crassipes) adalah
jenis tumbuhan air mengapung yang sering dianggap sebagai sampah air. Dulunya, keberadaan eceng gondok tak begitu dianggap bermanfaat.
Ini karena eceng gondok dianggap juga sebagai tanaman liar sejenis gulma atau hama, dan sebagai tanaman pengganggu.  Tapi bagi lembaga bernama Cordia, eceng gondok justru tanaman bermanfaat dan bukan sebagai tumbuhan liar.
Lembaga Cordia mengembangkan tanaman eceng gondok menjadi berbagai produk kerajinan tangan. “Kami mengolah eceng gondok menjadi beberapa produk kerajinan tangan. Kami memanfaatkan eceng gondok sudah dua tahun,” ujar Binson Pandiangan, Pimpinan Pieta Shop, Pusat Pemasaran Handycraft dari Lembaga Cordia di Jalan Cik Ditiro No 8C-Medan.
Lembaga Cordia memanfaatkan eceng gondok untuk dijadikan produk tas, hiasan kotak, tempat parcel, rak laci, lampu hias, tempat pakaian, lampu hias, pot bunga hias, kursi, bantal sofa, hiasan dinding, tempat tisu, bingkai foto, dan banyak lagi desain yang bisa dihasilkan dengan menggunakan enceng gondok.
“Lembaga Cordia mengambil tanaman eceng gondok dari Danau Toba. Selain itu juga kita dapatkan dari berbagai tempat lainnya,” tambah Binson lagi.
Namun, peluang pasar kerajinan tangan enceng gondok saat ini masih harus bersaing dengan produk luar negeri. Ini karena masyarakat masih lebih menyukai produk dengan lebel merek luar negeri dibanding produk yang dihasilkan dari kerajinan tangan dari dalam negeri.
“Padahal, kualitasnya produk dalam negeri dari kerajinan tangan berbahan eceng gondok tak kalah kualitasnya dengan produk luar negeri. Bahkan, lebih unggul karena memiliki seni yang tinggi sehingga lebih unik,” kata Binson lagi.
Dikatakan Binson, selama dua tahun berkecimpung di bisnis kerajinan tangan eceng gondok, pihaknya melakukan pemasaran melalui pameran yang diselenggarakan pemerintah. “Pemasaran pada event pameran sangat menguntung karena produk kami banyak terjual,” ungkap Binson. Kata dia, modal eceng gondok yang dibutuhkan untuk produksi kerajinan tangan berkisar Rp7.000 hingga Rp10.000 untuk tiap satu produk kerajinan tangan. Bila diproduksi menjadi tas, membutuhkan modal Rp40 ribu hingga Rp45 ribu. “Tiap produk kerajinan yang kita jual keuntungannya sekitar Rp20 ribu hingga Rp30 ribu,” aku Binson.
Setelah eceng gondok diolah menjadi kerajinan, harga yang ditawarkan cukup bervariasi. Semua berdasarkan jenis, bentuk dan tingkat kesulitan pembuatannya.
Untuk harga jenis tas dengan berbagai model pilihan ditawarkan mulai dari Rp28 ribu hingga Rp65 ribu, bingkai foto sesuai dengan ukurannya mulai dari Rp18.800 hingga Rp112 ribu.
Kemudian, laci rak mulai dari Rp285.800 hingga Rp381.500, kotak tempat antaran mulai dari Rp37.500 hingga Rp43 ribu, tergantung ukurannya. Kursi tanpa sandaran harganya Rp110 ribu, bantalan kursi satu setnya Rp25 ribu. Lampu hias antik harganya Rp350 ribu. “Sampai sekarang ini, pemasaran kita hanya wilayah Sumatera Utara saja. Modalnya murah, untungnya cukup lumayan,” tambah Binson.
Ada banyak lagi jenis kerajinan di  Pieta Shop dengan berbagai jenis selain dari eceng gondok. Seperti kulit kayu, daun pisang, pandan dan tali dari akar-akaran.
Proses Pembuatannya Cukup Mudah
PROSES pembuatan handycraft (kerajinan tangan) dari eceng gondok cukup mudah.
“Proses yang kita gunakan masih tergantung pada keadaan alam dan menggunkan keahlian manusia. Untuk itu, cepat atau lambatnya produksi tergantung pada semua elemen pendukungnya. Yang utama adalah sinar matahari untuk proses pengeringan,” jelas Binson.
Binson mengatakan, walaupun mereka hanya berfokus pada penjualan hasil dari kerajinan tangan yang dilakukan 200-an pengrajin, tapi mereka tahu bagaimana cara mengolahnya agar mengetahui kualitasnya.
Eceng gondok yang datang dari Danau Toba langsung dibawa ke tempat-tempat produksi dengan pembagian berdasarkan jumlah pengrajin yang ada. Lalu, eceng gondok dijemur dengan menggunakan sinar matahari, setelah itu dirajut sesuai dengan pola yang sudah terlebih dahulu dirancang.
Misalnya, pola untuk membentuk sebuah tas dibuat berdasarkan model apa yang tengah menjadi tren di masyarakat dan bentuk lainnya.
Setelah dirajut, lalu diberikan pengawet khusus agar kuat dan tahan lama. Agar produk menjadi indah, diberikan pula beberapa hiasan sebagai daya tariknya. Jika produksi ingin diberikan variasi warna, maka pengrajin tinggal menambahkan pewarna yang biasa digunakan pada rajutan pandan.
Waktu yang diperlukan untuk menghasilkan sebuah produk kerajinan tangan eceng gondok paling lama satu minggu. “Dan satu orang pengrajin bisa melakukan produksi pada satu produk, mulai dari penjemuran hingga selesai.
ceng gondok ( Latin:Eichhornia crassipes) adalah salah satu jenis tumbuhan air mengapung. Selain dikenal dengan nama eceng gondok, di beberapa daerah di Indonesia, eceng gondok mempunyai nama lain seperti di daerah Palembang dikenal dengan nama Kelipuk, di Lampung dikenal dengan nama Ringgak, di Dayak dikenal dengan nama Ilung-ilung, di Manado dikenal dengan nama Tumpe.
Eceng gondok memiliki kecepatan tumbuh yang tinggi sehingga tumbuhan ini dianggap sebagai gulma yang dapat merusak lingkungan perairan. Eceng gondok dengan mudah menyebar melalui saluran air ke badan air lainnya. Akhir-akhir ini perkembangan tumbuhan air enceng gondok di perairan sungai, danau, hingga ke perairan payau sangat pesat. Sekilas tanaman enceng gondok tidak berguna. Bagi masyarakat di sekitar pinggiran sungai, enceng gondok adalah tanaman parasit yang hanya mengotori sungai dan dapat menyebabkan sungai menjadi tersumbat atau meluap karena enceng gondok terlalu banyak. Begitu pula bagi para masyakat disekitar pinggiran danau yang menganggap enceng gondok yang banyak didanau adalah penggau yang menghalangi aktivitas mereka di danau tersebut.
Kenyataan ini yang bisa menjadikan eceng gondok dianggap sebagai tanaman penggangu, tetapi bila kita jeli mencari peluang, maka tanaman eceng gondok sangat bermanfaat untuk memberikan peluang usaha sebagai bahan dasar kerajinan (handy craft). Seiring dengan perkembangan iptek, bagian tumbuhan eceng gondok setelah dikeringkan ternyata bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan tas wanita yang cantik, kopor, sendal, keranjang (tempat pakaian bekas), tatakan gelas, tikar, nampan dan sebagainya. Malah belakangan ini banyak dimanfaatkan untuk mendukung industri mebel den furniture, sebagai pengganti rotan yang harganya semakin melangit.
Hingga saat ini sudah banyak daerah yang mampu mengembangkan eceng gondok untuk pembuatan barang-barang kerajinan, mebel den furniture. Antara lain di Purbalingga, Dl Yogyakarta, sekitar Kota Solo, Cirebon, Lampung, Surabaya dan Bali. Bahkan sebagian barang-barang kerajinan eceng gondok dengan model dan kualitas tertentu, banyak diekspor ke Eropa dan Amerika Serikat yang semakin gandrung dengan barang-barang produksi dari bahan-bahan alami (back to nature).
Pembuatan handy craft dari bahan eceng gondok ini dibutuhkan proses yang cukup lama. Eceng gondok terlebih dahulu harus dikeringkan sekitar dua minggu. Setelah eceng gondok mengering lalu dibentuk kepangan panjang yang dilakukan warga dan kelompok perajin. Setelah berbentuk kepangan panjang, eceng-eceng tersebut dianyam menjadi barang yang diinginkan. Mulai dari pot bunga, tempat sampah, box tissue, tas, topi, perlengakapan dapur hingga furniture. Untuk lebih meningkatkan daya tarik pembeli, hasil anyaman tersebut ditambahakan cat pernis. Sehingga, tampilannya lebih mengkilap dan menarik.
Rata-rata kerajinan ini dijual di pasaran dengan harga mulai dari Rp 15 ribu hingga 5 juta. Tergantung dari ukuran barang dan tingkat kesulitan anyaman.
Berikut adalah langkah-langkah dalam pembuatan karya kerajinan tangan dengan bahan eceng gondok :
  • Pengumpulan eceng gondok
  • Pemisahan pangkal tangkai
  • Pengeringan pangkal tangkai
  • Penguliran
  • Pembentukan/penganyaman jadi karya seni (Tas, hiasan dinding, dompet, kursi dll)
:)
:)
from:http://www.google.co.id/search?hl=id&q=tumbuhan+eceng+gondok&revid=2029203316&sa=X&ei=pQgKTNy-LYLHrAfp2KiDDQ&ved=0CEQQ1QIoAw

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar